Minggu, 30 September 2012

Transformasi OKFT-UH

Kemarin,,, kita telah banyak mendengar cerita senior tentang Teknik dahulu. Kemarin juga kita telah banyak mendengar siapa saja senior-senior yang telah mengukir sejarah dalam membesarkan Teknik tercinta. Hari ini, ada satu pertanyaan besar buat kita seluruh anggota di lembaga kemahasiswaan, “Apa yang bisa diperbuat dan ditinggalkan untuk Teknik di masa depan?”

Kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrasi kampus sejatinya telah mengintimidasi dan mencederai eksistensi lembaga kemahasiswaan.
Surat edaran nomor 5754/UN 4.8/UM.13/2012 tertanggal 27 Agustus 2012 dalam rangka penegakan ketertiban mahasiswa di kampus Gowa,
poin 3 berbunyi; “Kegiatan nonakademik atau ko dan ekstra kurikuler yang ditujukan kepada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT-UH) Angkatan Tahun 2012 hanya dapat dilaksanakan oleh tim yang dibentuk dan ditugaskan oleh Dekan FT-UH” (tim yang dimaksud dsini adalah dosen-dosen).

Hal ini memang bertentangan dengan Undang-Undang Perguruan Tinggi pasal 14 yang berbunyi: “(1) Mahasiswa mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan dirinya melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler sebagai bagian dari proses Pendidikan. (2) Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan melalui organisasi kemahasiswaan.”

Sangat keliru apabila kegiatan pengkaderan dan pembinaan kemahasiswaan diambil alih dosen. Dosen yang memiliki tugas mentransformasikan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan, sudah sangat menguras tenaga mereka. Apalagi jika mengurusi kegiatan nonakademik atau ko dan ekstra kurikuler bahkan sampai tingkat teknisnya. Apakah dosen memiliki waktu dan dapat berbuat maksimal untuk membina mahasiswa baru dan mengelola aktivitas kemahasiswaan tersebut??

Namun dibalik kebijakan yang bertentangan tersebut, ada “pesan” yang ingin disampaiakan oleh pimpinan fakultas kepada lembaga kemahasiswaan hari ini. Bisa jadi banyak kekhawatiran dari pihak birokrasi fakultas apabila masa transisi ini melibatkan lembaga kemahasiswaan. Mereka butuh jaminan agar gedung baru, peralatan baru dan mahasiswa baru tidak ternodai dengan akses kekerasan modus lama dari para senior. Sedangkan pengalaman telah membuktikan bahwa lembaga kemahasiswaan FT-UH sangat sulit untuk melakukan transformasi metode dan gaya pembinaan sesuai dengan kondisi lingkungan saat ini.

Transformasi lembaga kemahasiswaan,,,
Pada saat ini, organisasi kemahasiswaan seakan tidak lagi menjadi pewadah bagi seluruh mahasiswa dalam membentuk pribadi mahasiswa yang bermoral, beretika, pola piker dan sikap dasar kemahasiwaan. Terkadang organisasi kemahasiswaan tidak terlalu memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan zaman, sehingga yang terjadi hanya sebuah hal yang berulang dan ketertinggalan pengetahuan dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan di luar kampus. Perubahan lingkungan yang terjadi saat ini perlu disikapi lebih dewasa oleh organisasi kemahasiswaan. Seringkali masalah yang muncul, namun sistem yang terbangun sehingga tidaklah disikapi sebagaimana mestinya.

Kekhawatiran ini pula yang muncul dari pihak birokrasi dalam melihat perkembangan lembaga kemahasiswaan yang mengalami kejenuhan. Beberapa indikasi yang dapat dilihat diantaranya semakin sedikitnya anggota yang berminat dan aktif di setiap periode kepengurusa, kebijakan atau instruksi tidak sepenuhnya dipatuhi oleh seluruh anggota dan kurangnya anggota yang terlibat disetiap kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan. Maka pertanyaan kepada pengurus lembaga kemahasiswaan, “Apa nilai jual lembaga kemahasiswaan saat ini?”

Kalau hanya pengembangan diri, di luar sana banyak lembaga training/pelatihan yang lebih profesional dan berkualitas. Kalau hanya wawasan keorganisasian, diluar sana banyak organisasi yang lebih terorganisir dan berdinamika. Satu hal yang terlupa di kalangan aktivis kemahasiswaan hari ini adalah sangat kurangnya pemenuhan kapasitas minat dan bakat dibidang keilmuan dan persiapan kader dalam menghadapi dunia kerja. Lembaga kemahasiswaan seakan hanya terfokus pada kapasitas kepribadian (pengembangan diri), kegiatan dan kegiatan...

Kembali melirik tujuan OKFT-UH: ”Membentuk Mahasiswa yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki wawasan yang luas, cendekia, memiliki integritas kepribadian, profesionalisme, kemandirian dan kepekaan sosial.”

Perubahan adalah keniscayaan dari setiap zaman,

Esensi lembaga kemahasiswaan tetap mesti dipertahankan, karakter Anak Teknik harus tetap ditanamkan, namun metode dan gaya pembinaan tak harus sama dengan sebelumnya karena perubahan adalah keniscayaan dari setiap zaman. Hal ini menjadi dasar bahwa lembaga kemahasiswaan hendaknya mentrasformasikan diri kedalam konsep yang lebih inovatif dan kreatif sesuai dengan perkembangan zaman. Selain konsep bagi mahasiswa baru, lembaga kemahasiswaan harusnya memiliki konsep pembinaan bagi seluruh anggota di setiap jenjang sampai akhirnya anggota menyelesaikan masa perkuliahan dan siap bersaing di dunia kerja.

Hal yang perlu diperhatikan juga oleh lembaga kemahasiswaan bahwa kecenderungan mahasiswa hari ini sangat besar terhadap akademik. Sedangkan presentasi tingkat prestasi aktivis lembaga kemahasiswaan jauh dari harapan. Oleh karena itu, lembaga kemahasiswaan harusnya mencari formula gerakan aktivis mahasiswa prestatif. Sehingga akhirnya, senior di lembaga kemahasiswaan dapat menjadi teladan bagi mahasiswa baru dalam hal skill kompetensi, integritas kepribadian, kecerdasan dan keilmuan.

Pengkaderan mahasiswa baru adalah hak dari lembaga kemahasiswaan. Kader adalah penggerak dari sebuah organisasi, karena itu proses regenerasi harus tetap diadakan. Kegiatan penerimaan mahasiswa baru di lembaga kemahasiswaan adalah awal dari sebuah prosesi pengkaderan, mungin ada juga yang beranggapan bahwa itu hanyalah acara ceremonial saja, karena yang perlu diperhatikan dan menentukan adalah bagaimana prosesi pembinaan dalam masa pengkaderan tersebut, mulai dari mahasiswa baru sampai memegang gelar sarjana Teknik.

Konsep pembinaan mahasiswa yang ditawarkan oleh lembaga kemahasiswaan harusnya memiliki nilai jual lebih, dipahami dan diyakini sepenuh hati, tidak terfokus pada prosesi penerimaan mahasiswa baru, namun yang lebih penting adalah bagaimana proses pembinaan mahasiswa baru tersebut sampai akhirnya smenyelesaikan studi dan memiliki karakter Anak Teknik yang mampu bersaing di luar kampus. Tim yang mengawal konsep adalah orang yang memiliki integritas kepribadian, berpengaruh dan tanggungjawab terhadap tindakan dan kesepakatan yang diambil. Konsep pembinaan kader semestinya juga memberikan porsi khusus dalam pengembangan minat dan bakat di bidang keilmuan agar kader nantinya memiliki bekal yang cukup, baik dalam hal keorganisasian, skill manajemen maupun kecerdasan dan keilmuan.


Hidup Teknik…!!
Keep On Fighting Till the End...


*Muh.Fajrin S_Mahasiswa Teknik Angk.2006,
Koord.Pengkaderan HME FT-UH periode 2009-2010

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung di Blog kami.
Silahkan komentar. Salam Blogger ^_^